Sunday, September 26, 2010

roti boy atau roti polo atau mexican bun yaaa....


Description:
Jadi ceritanya saat mudik kemarin di Ujungpandang.
Lagi jalan di mall panakkukang terus liat anak kecil duduk di trolly sambil ngunyah roti boy.
Kok jadi pengen...
Tanya sama kakak katanya roti boy yang disitu ngga fresh seperti yang di airport.. jadinya ngga beli deh...

Terus sampe besoknya kok kepikiran terus. Lalu browsinglah nyari2 resep roti boy. Dan kemudian menemukan yang kayaknya "layak" coba di cakefever.com.

Resep rotinya make resep "roti lembut-nya" ibu Fatmah Bahalawan.

Hasil jadinya enakkkkk.
Dalam kondisi anget-anget, fresh from the oven tanpa terasa aku bisa ngunyah sampe 2 roti hahahaaaaa......

Ingredients:
500 gram tepung terigu protein tinggi
100 gram gula
11 gram ragi instant
½ sdt bread improver (aku ngga pake karena ngga ada)
4 butir kuning telor
300 ml air es (aku pakai 200 ml saja tapi diganti susu cair bukan air)
½ sdt garam
100 gram mentega

Topping:
50 gram gula halus
50 gram gula palem
100 gram mentega
80 gram telur
130 gram terigu protein rendah.
5 gram kopi instant + 1 sdm air panas (aku jadi 7 grm krn suka wangi kopi)
5 gram essence kopi (aku ngga pake karena ngga ada)


Directions:
• Campur semua bahan kering, kecuali garam, aduk rata
• Masukkan air es 200 ml dan telur, aduk dan uleni sampai rata.
• Masukkan mentega dan garam, uleni lagi sampai kalis elastis.
• Diamkan adonan hingga mengembang 2 kali.
• Setelah mengembang, kempiskan lalu ambil adonan seukuran yang diinginkan, sekitar 40-50 gram. Bulatkan, gepengkan, isi dengan butter beku. (Butter dipotong-potong kotak kecil untuk isian.)
• Setelah diisi, tutup, bulatkan lagi. Biarkan mengembang lagi sekitar 30-60 menit.
• Setelah mengembang, semprotkan topping yang dimasukkan ke piping bag (plastik segitiga), semprotkan melingkar seperti obat nyamuk.
• Oven 20 menit dengan suhu 180 C

Aku ngga pake piping bag, aku kuas-kuasin aja bahan toppingnya di permukaan atas roti.

Cara membuat topping kopi :
• Kocok mentega, gula, telur hingga lembut, masukkan tepung terigu, aduk rata, tuang kopi dan essence kopi, aduk rata lalu masukkan ke dalam plastik segitiga.
• Ukuran telur kalau bisa sesuai resep, jadi harus ditimbang sebab kalau telurnya terlalu besar bisa membuat adonan topping menjadi terlalu lembek dan cair.

Wednesday, September 15, 2010

Bolu Kukus Gula Merah


Description:

Salah satu kue tradisional favorit aku.
Jadi semangat 45 untuk coba buat saat nemuin resep yang tidak make air soda sama sekali.

Dan tradaaa.... inilah eksperimen pertama membuat bolu kukus gula merah.

Testimoni kebanyakan orang-orang yang menyatakan "gagal" saat membuat bol kus karena tidak merekah, tidak terjadi. Alhamdulillah senangnya.

Begitu tutup kukusan dibuka, bolu kukus mekar merekah indah merona terpampang di depan mata *lebay.com*

Recipe-nya nyontek dari resep bolu kukus gula merah yang di-post oleh miss ningnong pada link berikut :

http://ningnong.multiply.com/recipes/item/185/BOLU_KUKUS_GULA_MERAH

Ingredients:
2 butir telor
400 gr gula merah atau gula palem, rebus dengan 400 cc air, sampai gula larut, saring, dinginkan (aku cuman seduh gula palem dengan air panas hingga gula palem larut hehehe)
100 gr gula pasir
500 gr terigu protein sedang
1 sdt soda kue
1/2 sdt baking powder
250 ml minyak goreng

25-30 cetakan bolu kukus, alasi kertas

Directions:
Didihkan air dalam dandang/kukusan.
Kocok gula pasir, telor, baking powder, soda kue sampai kental dan pucat.
Kecilkan mixer, tuang terigu, air gula merah dan minyak secara bergantian.
Tuang adonan ke dalam cetakan sampai hampir penuh.
Kukus dalam kukusan yang telah mendidih dan beruap banyak, selama 25-30 menit.

* Tutup kukusan dibungkus serbet supaya air tidak menetes
** Selama mengukus, tutup kukusan tidak boleh dibuka
*** Cobain deh, asal semua step dijalankan dengan benar terutama soal dandang yang airnya bener-bener mendidih dan tutup tidak dibuka sama sekali Insya Allah hasilnya cantik mekar merona hehehe

Tuesday, April 6, 2010

bikin kue pukis ala pak margono... :)

Setelah bolak balik memperhatikan, mencermati, dan meyakini bahwa recipe yang ini mesti dipraktekkan secara sang pembuat memberikan kesan dan pesan bahwa mudah banget ngebuatnya (kayaknya sih disemua postingan masak semuanya berkesan sama hahaha) maka akhirnya dalam rangka mengisi periode cuti pertama di 2010 maka aku cobalah membuat kue pukis ala Pak Margono.

Alhamdulillah ternyata memang mudah dan jadi lohhhh... hehehe.

Aku buat untuk 2 jenis topping taburan, meises dan potongan keju slice (lagi males marut keju).

Dan setelah aku icip2 kayaknya lebih cocok dan lebih mak nyuss yang ber-topping keju, begitulah mneurut cita rasa yang kurasakan :)

Hhhmmm disantap anget-anget bareng teh sari wangi green tea.

Untuk bahan dan cara membuatnya, silakan monggo jalan-jalan ke account sang owner yaaa.....: http://mmamir38.multiply.com/
Super duper komplit, detail, jelas, dan lengkap dengan gambar .... hehehe
Hayooo kurang apa lagi coba.... tinggal niat dan kemauan untuk membuat :p

O iya, satu tambahan tips dari aku. Lebih enak kalo dengan api kecil sehingga pinggirannya rada-rada krispy gitu tapi bagian dalamnya lembutttt bangettt.
Alhamdulillah :)

Sunday, December 27, 2009

spaghetti aglio olio ala maniapasta :)


Rating:★★★★
Category:Other

Menemukan resepnya disini :

http://maniapasta.multiply.com/

Kemudian coba dibuat karena ngga ribet dan cuman bermodalkan kemampuan iris-iris dan tumis-tumis.
Semua juga pasti bisa :)

Hasilnya : enak bangetttt.... *but only for fish and seafood lovers*
Seger dengan aroma daun jeruknya.
Trus kalo mau sedikit-sedikit americana, tinggal taburin kiju parut aja atau make kiju kraft yang baru itu, yang mudah leleh.
Makin enak. Hehehe.


Selamat mencoba....

and thanks to maniapasta :D

Onde-Onde Istimewa Banyumas


Rating:★★★★★
Category:Other
Jajanan tradisional favorit.

Kata teman yang membawanya ke kantor dan memberi se-kotak untuk aku sendiri (nyam1000X) belinya itu di sekitar Antasari, kalo ngga salah.

Harga : 10 ribu per kotak.
Satu kotak isi 5 biji.

Rasanya, duh ngga diragukan lagi.
Untuk penggemar jajanan tradisional seperti aku, si onde-onde ini akan memenuhi kebutuhan anda akan jajanan murah meriah tapi enak tenannn.
Enak banget deh pokoknya.
Ngomong2, sekotak itu aku abisin sendiri.
Ngga usah heran. Tapi ngga abis dalam sekejap kok *membela diri*
Baru jelang sore, bersih tandas tinggal kotak kosong tapi masi tetep enaakkkk :)

Saturday, December 26, 2009

miss bonjovi yang berjiwa penolong...

Jujur aja, aku beneran terkesan sekali dengan respon pertama dari teman satu ini saat dia me-reply email yang ku kirimkan ...   

Sebelumnya kita belum pernah email2an dan begitu aku kirim email, isinya langung permintaan tolong untuk suatu hal.... *halah www.malu.com*

Gimana aku ngga akan terkesan karena dia belum kenal aku dengan baik tapi begitu aku meminta tolong untuk sesuatu yang aku butuhkan dan udah dicari-cari sekian lama (beneran, aku udah cari2 barang itu ke showroom shafira di jakarta & bahkan di ujungpandang saat mudik namun tidak ketemu), hal sangat sepele dan mungkin ama orang lain bakalan dicuekin. Tapiiiiii dengan tangan terbuka dia bilang, ngga usah khawatir akan dibantu mencarikan barang tersebut.

Dan benar saja, pada hari Sabtu siang jelang sore 2 hari setelah email2an kami itu, teman yang baik ini sampe repot-repot menelpon aku dari Bandung untuk mengabari kalo barangnya ketemu namun hanya ada 8, tidak sampe 10 sesuai dengan yang aku pesankan.

ALHAMDULILLAH !!!  Baik banget  

Kami bahkan belum pernah bertemu muka, kenalnya juga begitu2 aja dari suatu blog saat ada kesempatan chat tapi dari situ aku bisa menangkap kesan kalo miss yang nge-fans berat ama Jon Bonjovi dan Nuno Bettencourt ini asli kocak abis orangnya, cenderung spontan, apa adanya (alias ngga ja'im),  dan berani...  . Mangkanya itu juga yang membuat aku memberanikan diri meminta tolong, orangnya berkesan positif sih. Ngga lebay.
Hal lain yang aku ketahui, dia itu rajin banget ama yang namanya fitnesssss .
And her name is Linakasuma.

Lin, makasi banget untuk pertolongannya    

Tidak ada perbuatan baik yang sia2, akan ada balasan berlimpah dari Allah. Aminnnnn

hhmmmm.... teman baik memang bisa ditemukan di mana aja.

picture : Linakasuma and si Nuno Bettencourt

Thursday, October 8, 2009

Politik dan Gempa...

what a good reading ...

totally co-pas dari sini

~ Indonesia Version~

Korban Gempa & Orang Kaya

[Isi artikel ini kurang lebih sama dengan surat saya yang diterbitkan di Jakarta Post kemarin. Saya terjemahkan buat teman2 yang kurang paham.]

Assalamu'alaikum wr.wb.,

Beberapa hari yang lalu, saya baca di berita bahwa menteri dan anggota senior Golkar Aburizal Bakrie telah berjanji untuk membuat dana 1 triliun untuk mengembangkan Golkar lagi (kalau mereka angkat dia sebagai ketua umum). Tetapi saya belum baca berita bahwa Bakrie ataupun orang kaya lain bersedia mendirikan dana 1 triliun untuk membantu korban gempa di Padang atau Jawa Barat. (Ada gempa bumi juga di Jawa Barat sekitar 4 minggu yang lalu, tetapi hal itu jarang dibahas sekarang. Tidak apa-apa. Kita seakan-akan hanya sanggup mengingat satu bencana saja. Mengingat dua sulit.)

Sepertinya, kalau sedang mengejar kekayaan dan kekuasaan, maka jumlah besar seperti 1 triliun bisa saja dicari. Dan sepertinya memang ada banyak sekali orang yang punya kekayaan pribadi yang besar karena jumlah mobil mewah seperti Bentley, Ferrari, Porche, Hummer, dan Lamborghini bertambah terus di jalannya Jakarta.

Bagi orang yang sangat peduli pada kekayaan dan kekuasaan, uang sebesar 1 triliun sepertinya bisa dicari dengan mudah, asal berhasil menambahkan kekayaan dan kekuasaan lagi. Tetapi kalau yang membutuhkannya adalah rakyat sendiri yang sedang menderita, maka suara dari kaum elit tidak terdengar lagi.

Kalau masih musim kampanye, pasti ada 40 partai politik yang siap terjun ke Padang untuk membagi-bagi sembako dan kaos dengan muka para caleg dia atasnya. Sayangnya ini sudah bukan musim kampanye lagi.

Hari Minggu kemarin saya lihat di berita bahwa TNI-AU akan berhenti mengirim bantuan ke Padang pada hari itu (4 Oktober). Alasannya, bantuan yang telah dikirim kemarin masih bertumpuk2 di bandara Padang, dan belum dibagikan. Sepertinya tidak ada yang tahu siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas semua bantuan yang sudah dikirim itu. Tetapi tidak ada yang peduli. Solusi yang paling sederhana adalah untuk berhenti kirim bantuan sementara.

Pemerintah bertindak secara lambat dan birokratis (seperti biasa). Contohnya, saya juga lihat di berita bahwa salah satu bupati di Padang menolak untuk membagikan bantuan yang telah diterima kecuali para korban bisa menunjukkan surat2 dari ketua RT dan RW. Oleh karena itu, bantuan bertumpuk2 di dalam kantor sang bupati tersebut. Saya jadi berfikir, bagaimana caranya untuk mendapatkan surat dari ketua RT kalau sang ketua RT sendiri juga tertimbun di bawah reruntuhan rumahnya?

Kalau perkara yang sama sedang terjadi di negara barat yang maju, seperti Australia, Inggris, atau Perancis, maka semua warga pasti sudah mulai protes dengan keras. Orang yang bertahan hidup tanpa makanan, minuman, tempat pengungsi atau pengobatan selama 5-10 hari pasti teriak dengan keras tentang tindakan pemerintah yang lambat, dan kemungkinan besar ada pejabat yang terpaksa mengundurkan diri. Tetapi ini Indonesia.

Bisa dijamin sebagian korban akan wafat, walaupun selamat dari gempa, disebabkan mereka tidak dapat air bersih, makanan, obat-obatan, dokter, dan sebagainya. Tetapi itu bukan perkara besar karena mereka tidak akan dihitung. Hanya orang yang wafat cepat dari luka2nya akan dihitung oleh pemerintah. Tetapi dalam minggu-minggu dan bulan-bulan yang mendatang, akan ada lagi yang wafat dari penyakit yang bisa diobati, seperti diare, dihidrasi, infeksi, dan sebagainya. Tetapi karena mereka tidak wafat secara cepat, mereka tidak akan masuk perhitungan sebagai korban. (Korban yang paling baik adalah yang sudah wafat pada saat ditemukan, jadi lebih mudah untuk dihitung.)

Banyak negara sudah antrian untuk memberikan bantuan kepada korban di Padang, dan itu sangat dibutuhkan dan juga sangat dihargai. Tetapi warga Indonesia yang kaya bisa melakukan lebih tanpa harus ada bantuan dari negara asing. Tetapi sepertinya mereka tidak mau. Mayoritas dari orang kaya yang pernah saya lihat di Jakarta lebih terobsesi pada diri sendiri daripada orang lain, dan hanya bisa utamakan diri sendiri di atas segala-galanya. Atau minimal mereka akan membantu orang lain sesedikit mungkin (usaha yang paling kecil) tanpa terlalu berkorban supaya masih bisa hidup dalam kekayaan yang sangat berlebihan.

Dalam sejarah manusia kita, ada banyak sekali contoh dari orang yang sangat mulia dan baik hati, yang tidak peduli pada kekayaan yang berlebihan, dan lebih peduli tentang bagaimana mereka bisa membantu dan melayani orang lain, untuk mengangkat dan memperbaiki martabat manusia. Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Nelson Mandela dan Bunda Theresia adalah beberapa contoh saja. Kalau seandainya kita punya orang seperti itu yang tinggal di sini untuk menjadi contoh bagi yang lain, maka barangkali akan ada lebih sedikit Hummer di jalan-jalannya Jakarta dan lebih banyak dapur umum di Padang sekarang.

Tetapi ini Indonesia. Sebenarnya yang nyata adalah bantuan akan datang sedikit demi sedikit, sebagian orang akan bertahan hidup, sebagian lain akan wafat, sebagian akan menjadi pengemis karena mereka jatuh miskin atau badannya menjadi cacat, dan seluruh negara akan lupakan nasib saudara kita di Padang dan akan berfokus lagi pada artis sinetron yang mana yang sedang cerai.

Dan kita akan begitu terus sampai bencana yang berikut, dan pada saat itu semua orang akan kembali peduli untuk beberapa saat saja, sebelum sinetron atau acara gossip mulai lagi di tivi.

Dan kaum elit yang punya uang dan kekuasaan di Jakarta akan lupa juga, dan akan berfokus lagi pada sebuah keputusan yang berat: “Apakah saya mau beli sebuah Bentley lagi, atau beli Ferrari saja?” Dan dunia akan berputar terus. Selamat datang di Indonesia. Sampai jumpa pada bencana berikut. Dan pada saat itu, komentar ini bisa diulangi lagi karena pasti belum ada yang berubah.

Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene

~English Version~

Letter to Jakarta Post : Politics and Earthquakes

[Published in Jakarta Post on 7 October, 2009]

Several days ago I read a news report saying that government minister and senior member of Golkar political party, Aburizal Bakrie, had openly pledged to set up a one trillion rupiah trust fund for Golkar to help them win elections in the future (if they make him their leader). But until now, I haven’t read anything about a 1 trillion rupiah fund from Bakrie or anyone else to benefit earthquake victims in Padang and West Java. (There was also a serious earthquake in West Java about 4 weeks ago, but no one seems to remember that anymore).

It seems that when power and prestige are at stake, Indonesia’s political and financial elite are able to find massive sums of money to further their ambitions. There is certainly no shortage of personal wealth available here, as evidenced by the ever increasing number of Bentleys, Ferraris, Porches, Hummers, and Lamborghinis that are visible on the streets of Jakarta these days.

People who are members of the financial elite seem to care so much about power and money that when opportunities to get more power and money present themselves, then massive amounts like 1 trillion rupiah can suddenly become available. But when it comes to providing much needed humanitarian assistance for fellow citizens, then the same voices are never heard. Although, if this was still the election campaign season, then there would be up to 40 political parties in the disaster area, handing out food and T-shirts with candidates’ faces on them, and money would flow like water. Unfortunately, the campaigning is over.

And the government seems determined to do everything as slowly and bureaucratically as possible. For example, I saw on the news that one regent refused to release aid (which was piling up in his office) unless victims could show documentation from their neighborhood chief (presumably to prove that they were residents and that their houses had been destroyed). I wondered how an earthquake victim would get the necessary letters if the local chief himself was also buried under the ruins of his house.

If this same series of events was happening in a developed country like Australia, the UK, or France, there would be public outrage at the slow pace of the government. People who have been without food, water, shelter and medical attention for 5 days would be demanding that someone take responsibility, and some member of the government would probably have to resign. But this is Indonesia.

Some people will probably die after surviving the initial earthquake, simply because they have limited or no access to food, water, medicine, doctors and so on. But that doesn’t really bother anyone, as no one will count them. Only the people who died quickly from their wounds will be counted in the government’s official total and no one will take responsibility for or protest about the old and the young who will die in the weeks and months to come from treatable illnesses like diarrhea, dehydration or infection. Those people probably aren’t as important as the initial victims, who are much easier to count because they were already dead when found by rescue workers.

Many countries are lining up to send assistance to the victims in Padang, and that is both desperately needed and gratefully accepted. But the wealthier citizens of Indonesia are capable of doing so much more by themselves. Unfortunately, they probably won’t. A majority of well-off people that I have seen in Jakarta is so full of self-interest that it almost seems to be a cultural obsession to take care of yourself above all else and do as little as possible to help others. Or at least, help others a little bit (as a token gesture) without sacrificing too much, so that you can still live in excessive luxury.

In our human history, there have been numerous examples of larger than life individuals, who were less concerned with lives of excessive luxury and more concerned with how they could be of service to others, for the benefit and also the betterment of all mankind. Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Nelson Mandela and Mother Theresa are just a few examples. If only we had such people living here in Indonesia to set an example to others then there might be fewer Hummers on the streets of Jakarta and more free public kitchens in Pandang right now.

But this is Indonesia. Realistically, we can expect that aid will slowly arrive, some people will live, some will die, some will survive and become beggars because they are destitute and physically disabled, and the whole country will forget and focus their attention once again on which TV stars are getting divorced. At least until the next natural disaster occurs, and then everyone will care again for a few minutes before their favorite soap operas and celebrity gossip shows start.

And the people with wealth and power in Jakarta will also quickly forget, and will refocus their attention on a very a difficult decision: “Shall I buy another Bentley or a Ferrari this time?” And life will go on as usual. Welcome to Indonesia. See you next natural disaster, when the comments above will be repeated again as nothing will have changed.

Gene Netto
Jakarta, Indonesia

foto image dari sini .....